rupanya tak sengaja bangku taman kita berbeda arah. engkau menaruhnya menghadap timur dan bangku ini ke barat. tiap pagi, dari bangku tamanmu selalu saja terlihat warna cerah yang memulai hari. semburat mentari terbit, terlihat indah. disaat itu, disini hanya nampak bias cahaya yang membuat bayanganku tergambar di permukaan rerumputan taman.
Perempuan Diri
Setiap Diri adalah Perempuan dari apa-apa yang dikandungnya;
Anak-anak yang lahir dr kandungan ‘perempuan’ ini berupa laku-amal. Sewaktu masih ada dlm kandungan ‘perempuan’, anak tadi disebut niat. Anak saleh, tentu saja lahir dari ‘orang tua’ yang saleh. ‘Orang-tua’ adalah ayah (pemimpin keluarga tubuh yakni akal) dan ibu (hati).. Jika akal dan hati ‘saleh’, tentu ‘persetubuhan’ keduanya akan membuahkan anak2 saleh. Bahkan sejak masih dalam kandungan a.k.a niat.
Ketika anak2 ‘niat’ itu dilahirkan berupa laku tindakan yang saleh, maka anak-anak inilah yang akan menyelamatkan orangtuanya kelak..
*Belajar membaca, belajar mengenal diri, agar tak mudah lupa-diri. Belajar mengenal aku, agar tak mudah mengaku-aku. Jika aku bersaksi kelak, tentang apapun, semoga benar-benar aku sejati yang bersaksi..
Kemudian aku belajar diam.. Seribu kali diam!! Karena dalam ribuan diam, aku mengeja kediaman.. Karena dalam ribuan diam, aku menyapa kesunyian..
*dari twit sandal
#tadi
tadi senja terhenti | terpaku dan sembunyi | melihat kita menari | menyatukan dua hati | yang merindu tak henti..!
tadi lembutmu kusapa | dari jenak kesadaran cinta | yang angkuh merampas paruh duka | masih saja selaksa tanya | kenapa harus kita..?
sajak yg hilang
Sajakku tenggelam bersama kabut sore;
Melindap pelan di penghujung gelap, mengaburkan pandang limbung mendekap, melarut dalam hijau dedaunan; hilang!
Tersisa hanya penggal-penggal nafas tak penuh, menyisir hangat yang meruam di pucuk pinus; meracau!
Sajakku sempoyongan menyongsong malam;
Bertanya adakah angin terhenti paksa? hingga tak ada lambaian ilalang disana? cuma ada gumam-gumam lirih, berulang sepenuh makna; tinggallah..! pergilah..!
Tapi ini bukan tempatmu, kau hanyalah sejenak singgah. tapi ini bukan tujuanmu, kau hanyalah sekedar tetirah. dari gaduh dan bisingnya, dari sunyi dan senyapnya,…
Hujan September
Hujan ini membawamu terserak di berandaku, bagaimana aku tak terkejut, demi melihatmu tak juga berubah. Setelah sekian bilangan musim berlalu, tak mampu menghilangkan teriakan parau itu. Teriakan berima, yang terdengar seperti bunyi deras hujan, manakala memanggil-manggil namaku.
Dan wajah yang tak asing, masih saja seperti ketika terbit di ufuk cakrawala langitku. Wajah berhias senyum yang pernah kupinta dihentikan waktu, agar bisa kunikmati tanpa khawatir segera berlalu.
Tapi hujan singgah hanya sebentar, perlahan ia beringsut bersembunyi di balik gumpalan awan. Rupanya engkau tak ikut pergi. Ketika kutanya, engkau bilang ingin tak sekedar singgah. Karena hujan boleh datang dan pergi, tapi cinta ingin menetap tak hendak lari.
Baiklah, engkau sekarang bersamaku. Disini bersama aroma tanah basah selepas hujan tadi. Aroma yang mengingati kita tentang sebaris kenangan indah tentang engkau dan aku. Mau tak mau puisi yang selama ini mengubur diri dalam kerontang musim kemarau, perlahan membasah. Mengeluarkan tunas dari dahan kering yang meranggas, tunas yang bergegas menyambut tetesan hujan awal musim.
Selamat datang hujan..
*Sept 2011
kenapa senja?
kenapa senja terus kau buru?
mencuri kenanganmu?
tapi ia membawa renungan,
tentang kisahmu seharian..
kenapa senja terus kau rindu?
mengusik cintamu?
tapi ia menekuk angan,
tentang sebuah bayangan..
rupanya senja adalah muara,
bagi jiwa-jiwa lara,
rupanya semesta tak beradu rindu,
malam pelan menampar ragu..
hanya senja yg setia,
meminjam jenak pesona,
mengedar hangat,
aroma pelukmu..
*pada suatu senja
selamat malam..
pada kering luka, yang setengah mati menyembunyikan bekas-bekas tetes darah dan airmata; aku ucapkan selamat malam.. biarpun bebat perban itu masih basah, mengembun bening, pula sembab melembab, tapi ia terus menghangat..
pada engkau setabah bumi, yang jujur merangkai kata, ingin kuucap selamat malam; biarpun hanya mata-kaki yang kau biarkan berkubang, karena berendam hanya membikin bebatuan iri dalam harum tubuhmu..
…
‘Cerita dari Goa Tepi Hutan’
Petang itu, di depan sebuah goa di tepi hutan, seorang kakek duduk bersila memandang kedua anak muda yang duduk di depannya. Nampak dari pakaiannya, mereka terlihat seperti sedang menempuh perjalanan jauh. Di sebelah kedua pemuda itu tergeletak dua tas ransel yang teronggok begitu saja.
Sambil mempersilakan mereka untuk menikmati hidangan penganan dan minuman di cawan bambu, sang kakek itu berkata,
“Singgahlah sebentar anakku…, karena kulihat hari menjelang malam. Dan kalian berdua tidak mengetahui keadaan jalanan saat malam tiba!”.
Sesekali nampak beberapa orang hilir mudik membawa beberapa perlengkapan. Ada yang membawa makanan Q-3. Ada juga yang membawa berpeti-peti senjata berat seri Q-5 untuk disimpan didalam gudang penyimpanan goa itu. Pakaian mereka terlihat ala kadarnya, layaknya julukan mereka sebagai manusia goa, mereka hanya mengenakan jubah bertambal-tambal yg terbuat dari kulit binatang.
Kedua anak muda itu adalah pengembara yang sedang berkelana menjelajah kehidupan di dunia baru itu. Bermodalkan keberanian dan kemauan kuat, mereka telah mengelilingi hampir setengah dari wilayah dunia baru itu. Mereka telah merasakan getirnya menggelandang di negara-negara Eropa Timur, hingga kawasan Kangguru berbiak. Berkelana menjelajah wilayah yg penuh dengan konflik peperangan hingga ke negara-negara yang tak bertuan.
***
pedih
nyala api ini belum padam sepenuhnya,
semenjak kayu rindumu kubuang paksa,
tak kau rasakah panasnya?
bahkan asapnya memedihkan mata..
*juli2011
ssshh!
*juli2011ssshh, dengarlah sayang ;
suara-suara malam ini,
yang dibisikkan bagi sahabat-sahabatnya..
yang tak terdengar makhluk-makhluk pelupa,
hendak bercerita apakah ia?
kenapa harus berahasia?
apakah hanya layak didengar oleh mereka
yang sedang jatuh cinta?